Latest Entries »

SURAT UNTUK TEMAN

temanku tersayang.

Malam sebentar lagi menjadi pagi, walau seperti itu aku belum bisa memejamkan mata. Bintang-bintang bertebaran dimana-mana, seakan memanggil keinginan biologisku untuk menontonnya, seolah mereka tahu bahwa aku suka melepaskan segala gundah gulana ketika aku menyaksikan tingkah polah mereka. Sedangkan bulan malam ini pun tak kalah romantis. Dia dengan anggunnya seakan menatapku. Ah, seandainya ilmu pengetahuan tak memberitahukanku bahwa bulan itu penuh lubang, aku mungkin jatuh cinta padanya. Langit yang seperti itu begitu tampak indah teman, ada kalanya langit memang begitu indah dikala malam meski kadang juga terlihat mengerikan ketika kumulonimbus, awan menyebalkan itu, datang. Tapi tidak untuk malam ini, aku melihat begitu luaslangit. Langit yang seperti itu siap meredam segala sesuatu yang tak dapat kita tanggung. Dan segala sesuatu yang tak dapat aku tangung adalah ketika tiba-tiba aku memikirkan kalian.

Teman temanku tersayang.

Entah apa yang membawaku memikirkan kalian malam ini, dibawah tatapan bulan ini. Tiba tiba saja aku merasa harus menuliskan sesuatu sebagai ungkapan kejujuranku bahwa aku sangat menyayangi kalian. Rasa sayang ini seakan menarikku, membawaku mengingat segala hal yang pernah kita jalani bersama. Hatiku seperti melontarkan sesuatu yang tidak aku mengerti, melaju naik ke ubun-ubunku dan menjelmamenjadi rol film hitam putih yang mengulang segala bentuk hal teraneh, tergila sampai terkadang kelewat tidak terhormat yang tentu mengakibatkan kemarahan-kemarahan para guru-guru yang, entah apa alasannya, selalu sukses kita tertawakan. Rol film hitam putih itu ternyata sanggup memberikan spektrum lain yang kita rasakan, tidak sehitam dan seputih gambar visual yang ditayangkan, spektrum yang lebih berwarna itu justru datang dari tingkah polah diri kita masing-masing, yang selalu berhasil membuatku tertawa dan kadang tersipu malu, oh betapa lugunya masa-masa dulu.

Teman temanku tersayang.

Seringkali aku berpikir tentang diri kita dimasa datang, pemikiran yang mungkin saja juga kalian lakukan sebagai renungan-renungan malam sebagai imunisasi harapan-harapan yang kalian buat. Akankah yang akan terjadi kepada kita nanti adalah sebuah refleksi dari apa yang kita lakukan sekarang? Ataukah itu malah menjadi hal percuma dan, jika mungkin boleh lebih kasar, menjadi kesia-siaan yang boros? Aku tidak mengerti harus menjawab apa. Apakah kalian mengerti? Aku rasa juga kalian tidak mengerti, yang kita tahu hanya melakukan sesuatu hal dengan sangat jujur dan disertai tanggung jawab yang tinggi dan konsistensi yang sekuat pasak bumi1. Setelah itu, inilah kenapa, yang baru-baru ini aku sadari, Tuhan itu ada dan pasti satu (bukan berarti dahulu aku tidak mempercayai ke-Adaan Tuhan dan ke-Esa-anNya, aku hanya baru sadar bahwa ternyata akhir dari perjuangan manusia ada di Tangan Tuhan) tindakan terakhir yang harus kita lakukan adalah tawakal, berserah sepasrah pasrahnya kepada kekuatan Maha Dahsyat tersebut.

Teman temanku tersayang.

Jika melihat rubik 3×3 yang aku miliki, karena memang cuma jenis rubik itu yang aku punya sekaligus cuma jenis itu juga yang bisa aku selesaikan, aku teringat bahwa hidup itu, jika dipikirkan sesederhana kita memainkan rubik, seperti permainan rubik itu sendiri. Dimana 54 cube-cube kecil bewarna acak; merah, biru, kuning, orange, hijau dan putih, yang masing-masing warna itu jika dilakukan tindakan menggeser dan memutar secara logis akan berakhir dengan berkumpulnya cube yang berwarna sama, hingga akan terlihat betapa sebenarnya begitu indah rubik itu jika pada kondisi tersusun rapi. Namun tidak jika kita memutar-mutar cube-cube kecil itu tanpa logika dan tanpa alasan yang tepat, jalan yang mudah yang hanya mungkin membutuhkan beberapa menit saja, dalam beberapa acara rekor dunia di TV bahkan ada yang mampu menyelesaikanya dengan hitungan detik, untuk menyelesaikanya akan butuh berjam jam bahkan sampai berhari hari lamanya. Mungkin demikianlah hidup, jika kita mengisi kehidupan ini dengan tindakan logis dan dengan alasan yang tepat, maka akan serasa mudah kita menjalani kehidupan ini. Namun tidak jika kita menjalaninya tanpa tindakan yang tepat, secara logis maupun tidak, mungkin akan terasa sangat sulit bagi kita untuk menjalani kehidupan. Tapi teman, sayangnya hidup itu tidak sesederhana jika kita memainkan rubik. Ada hal-hal yang tak terjangkau oleh logika dan naluri kita sebagai maluk hidup. Ada batas dimana akal kita berhenti bekerja jika memikirkan kematian, adanya kehidupan itu sendiri dan tentu saja Tuhan.

Ah, teman temanku tersayang.

Apa bila membicarakan kematian, aku jadi teringat dengan tujuan kenapa aku tulis surat ini untuk kalian, teman temanku tersayang. Teman-temanku tersayang, selama ini aku sudah begitu jauh dari rumah, aku merasa begitu letih berjalan terus menjauhi rumah. Walaupun terkadang aku bingung sendiri mendefinisikan apa pengertian rumah. Rumah itu adalah tempat dimana hatimu berada, kata seorang penulis yang mengutip dari sebuah buku. Aku pikir juga begitu. Walau tidak selalu. Terutama jika aku sedang bingung menentukan dimana nanti letak hatiku berada. Tempat ini adalah tempat terindah yang pernah aku kunjungi, aku begitu nyaman dengan segala bentuk biologis atau non biologis di tempat ini; manusia, tetumbuhan, sejarah, budaya dan bahasa, untuk hal terakhir itu, aku mempelajarinya dengan sangat intens. Tempat ini juga memiliki akar sejarah kehidupanku. Terutama bagi kedua orang tuaku. Tempat ini ingin aku jadikan rumah bagi hatiku. Tempat cintaku tumbuh subur dan berakar kokoh. Namun begitu kenyamanan hati dan keinginan hati itu tidak mudah aku wujutkan bahkan mustahil. Rumah yang seharusnya menjadi tempat kenyamanan hati ini nyatanya bukan disini, bukan di tempat ini, rumah itu ada di tempat yang malaha tidak mempunyai akar sejarah kehidupanku, terutama kedua orang tuaku. Walaupun aku terlahir dan menghabiskan masa balitaku ditempat itu, aku tidak merasakan ruh sebagai penguhuni tempat itu, atau mungkin memang aku belum mendapatkan ruh tersebut, entahlah. Yang pasti, mau tidak mau, tempat itu harus jadi tempatku menyusun strategi bertahan hidup. Tempat itu adalah tempat dimana hati galauku berlabuh, berjuang lalu kemudian MATI.

Teman temanku tersayang.

Seperti yang telah aku katakan, ingin rasanya aku menemani kalian disini dan membesarkan rumah dimana hatiku, juga hati kalian semua, tidak menjadi galau, menjadi kokoh dan kuat seperti rumah itu sendiri. Namun aku tidak bisa. Waktuku telah habis dan saatnya bagiku untuk pulang kerumah, rumah yang harus aku ciptakan ruhku di dalamnya. Aku mengerti ini berat bagiku, apakah ini juga berat bagi kalian semua? Aku harap begitu. Setelah semua yang kita jalani bersama, merangkai mimpi kita bersama, berjanjilah untuk tetap menyayagiku sebagai teman dihati kalian semua. Ingatlah pada suatu ketika dimana kita saling tertawa lepas, aku rasa hanya kali itu saja bersama kalian aku tertawa selepas seperti tanpa batas. Ingatlah teman,kalianlah teman temanku tersayang.

Teman-temanku tersayang.

Sudah saatnya aku meminta maaf pada kalian semua atas segala tingkah polahku yang terkadang membuat kalian jengkel, mungkin aku memang punya bakat alami untuk membuat orang merasa jengkel. Aku pun telah memaafkan kalian. Sudah saatnya aku berterimakasih pada kalian atas segala nasehat dan tutur kata dari tindak-tanduk kalian semua.Tanpakalian mungkin sampai sekarang aku masih seorang primitif yang tak tahu caranya untuk maju, meskipun aku tak mau melepaskan semua keprimitifanku. Dan Sudah saatnya aku mengusap air mata ini dan tersenyum optimis seraya mengatakan “Teman-temanku tersayang, sampai bertemu lagi di lain kesempatan dan di lain penampilan, maaf reuni kali ini aku tak bisa datang”.

“Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati, Sampuraha Rin Tiwas3.”

Ahmat alimran Pare, 27 may 2011.

Catatan:

1. Pasak bumi, disini, bukanlah semacam tumbuhan yang digunakan sebagai obat herbal.

2. Penulis itu ialah Yuni Pramudha Ningrat lulusan brawijaya malang ini sedang melanjutkan studinya di salah satu Negara di Eropa. 3. Diambil dari DASHA SHILA SUTASOMA sila ke delapan dan sembilan karya empu Tantulan yang artinya kurang lebih “Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut mati dan bersabar dalam keadaan susah”

4. Tulisan ini mengambil judul yang sama dengan tulisanya Yuni Pramudha Ningrat. Yang dimuat di Majalah Horison edisi November 2008

Iklan

Dik

Hari sudah sangat malam ketika aku tulis surat ini padamu. Mataku memang selalu tidak bisa terpejam ketika malam sudah sangat larut. Aku mungkin menyidap penyakit susah tidur tapi percayalah bahwa hanya karena kamulah aku menjadi seperti ini. Malam memang romantis. Malam yang romantis untuk membayangkan wajah manismu.

Aku membuka fotomu sore ini, ah bukan, agak siang sedikit. Siang itu, setelah mengerjakan beberapa tema pembahasan dalam buku yang sedang aku tulis, aku tiba-tiba teringat padamu. Aku memang selalu teringat padamu ketika sedang melepas lelah setelah sedikit beraktivitas. Kadang ingatan itu membawaku melayang pada titik peristiwa lalu, peristiwa-peristiwa yang sesaat membuat bibirku tertarik, membentuk pola manis yang—katamu—selalu membuatmu jatuh hati. Foto-fotomu itu sangat sering aku buka. Aku tidak memerlukan waktu lama untuk membuka isi dokumen-dokumen dalam komputerku yang memang sudah terlalu banyak ini. Album fotomu, yang juga berisi foto-foto kita, tersimpan rapi dalam satu file yang mudah aku temukan dalam local disk D yang sengaja aku beri nama “TRIO”. Jika belum puas memandang foto-fotomu yang itu, aku akan menggeser krusor komputerku dan memilih locak disk E yang aku beri nama sama dengan namamu “TRIA”, di situ aku akan lepaskan kerinduanku sejenak bersama gambar-gambarmu yang lucu dan menggemaskan.  Aku memang sedang jatuh hati padamu.

Dik

Aku tidak pernah tahu tentang apa yang membuat orang dapat jatuh hati pada orang lain. Aku tidak pernah tahu kenapa aku harus jatuh hati padamu. Bukankah kamu sering menanyakan itu padaku dan aku selalu tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Aku memang tidak berbakat dalam membuat alasan. Aku hanya menyukaimu, itu saja dan tidak ada lagi penjelasan kenapa aku menyukaimu. Memang saat itu, saat pertama aku mengenalmu, dalam taraf kesadaran tertentu kamu memang selalu berhasil mencuri perhatianku. Kamu selalu membuat suasana hati, yang tidak pernah juga dapat aku jelaskan, menjadi lebih berwarna. Bukankah suasana hati kita memang harus selalu berwarna, setidaknya tidak merasa sangat bosan.

Dik

Pernahkah kamu merasa sangat bosan dalam menghadapai sesuatu atau seseorang? Aku selalu merasa sangat bosan dengan keadaan kita, dengan jarak yang memisahkan kita. Apakah jarak memang sebuah hukuman bagi cinta? Banyak orang beranggapan bahwa menjalin hubungan dengan jarak ratusan mil adalah mustahil. Tapi aku tidak percaya itu. Aku memang merasa bosan dengan hubungan seperti ini tapi kemudian, menurutku, memang harus seperti ini. cinta adalah pengorbanan, ungkapan lama yang memang harus aku percayai, dan pengorbanan paling terhormat menurutku adalah jarak hubugan kita.

Dik

Aku bisa merasakan banyak hal dari banyak peristiwa yang sudah kita lalui bersama dan foto-foto kita itu adalah saksinya. Apakah ada saksi yang lebih baik dari pada sebuah foto. Dulu kamu pernah membuat puisi bahwa bintang adalah saksi bagi cinta kita berdua tetapi menurutku bintang tidak bisa berbicara. Foto dapat berbicara. Itulah kenapa aku suka mengabadikan segala objek menarik dengan kamera. Aku tidak mempunyai kamera yang cukup bagus untuk menghasilkan foto yang bagus tapi aku yakin dengan kamera apapun jika objek yang aku ambil itu kamu pasti hasilnya akan jadi menarik. Kamu memang sangat menarik sayang.

Dik

Kita sering bercerita tentang masa depan yang nanti akan kita hadapi bersama. Obrolan yang sangat romantis bagiku. Apakah ada obrolah yang lebih romantis dari pada obrolan tentang masa depan. Masa depan adalah misteri, setidaknya itu kata orang-orang dan yang sementara aku percayai. Aku tidak mengatakan bahwa aku mempercayai masa depan itu misteri. Aku hanya berpikir bahwa masa depan itu adalah refeksi dari segala hal yang kita lakukan sekarang. Bukankah apa yang telah kita lakukan sekarang sudah sangat romantis dan aku percaya masa depan yang akan kita jalani nanti tidak kalah romantis dengan ini. aku harap kamu juga mempercayai itu.

Dik

Aku sangat merindukanmu, kerinduan yang sungguh mencekam. Kenapa kerinduan selalu menyedihkan seperti ini. Aku pernah menonton sebuah film tentang kerinduan seperti ini dan film itu mampu membuat semua orang yang menontonya meneteskan air mata. Sebuah cerpen karya seorang penulis, yang kadang membuat aku ingin bertemu denganya, juga pernah menyentuh hatiku, kisah rindun dalam cerpen itu sungguh romantis. Ada banyak kisah romantis yang dikreatifkan oleh orang-orang luar biasa menjadi cerita sangat menawan dan itu membuatku iri dan bermimpi dapat membuat sebuah kisah sejenis.

Aku telah menulis banyak kisah tentang kerinduan dan ini adalah kisah kerinduanku padamu. Pernah sekali aku menulis tentang kekuatan cinta untuk seseorang tapi tulisan itu sama sekali tidak membuatnya berpaling kepadaku tapi itu tidak mengapa bagiku. Aku sudah terbiasa dengan penolakan dan penolakan-penolakan itu mengajarkan padaku untuk terus menulis. aku tidak mengatakan bahwa aku tidak memikirkan tentang penolakan itu. Aku selalu memikirkan itu dan berharap dapat memperbaikinya agar, jika aku bertemu dengan seseorang yang untuk dia aku akan menulis cerita, aku tidak lagi mengalami penolakan.

Dik

Kamu adalah gadis yang baik. Kamu tidak pernah menolak apapun yang aku tulis untukmu. Kamu selalu membacanya dan menyukainya. Kamu selalu menerimaku apa adanya, seperti tulisan-tulisan yang aku buat untukmu tapi aku mohon kamu tahu bahwa apa yang aku tulis tidaklah sebanding dengan apa yang aku rasakan dalam hatiku. tulisan di hatiku tentangmu lebih bermakna dan lebih indah. Aku harap kamu tahu tentang hal itu.

Dik

Gelap telah berangsur-angsur terang dan aku ingin melihat matahari terbit bersamamu. Aku lelah. Semoga akan ada hari yang berpihak kepada kita.  Semoga akan ada pertemuan yang mengobati kerinduan cinta. Semoga semuanya berakhir dengan bahagia dan biarkan aku dan seluruh organ dalam tubuhku mencintaimu untuk selamanya.

Tanjung Enim 25,04,2013

 Asalamualaikum Wr.Wb

بسم الله الر حمن الر حيم

لقد جأء كم رسول من أنفسكم عزىز علىكة ما عنتم حرىض علىكم بالمؤمنين رءوف ر حيم

SESUNGGUHNYA TELAH DATANG KEPADAMU SEORANG RASUL DARI KAUMMU SENDIRI, BERAT TERASA OLEHNYA PENDERITAANMU, SANGAT MENGINGINKAN (KEIMANAN DAN KESELAMATAN) BAGIMU, AMAT BELAS KASIH LAGI PENYAYANG TERHADAP ORANG-ORANG MUKMIN  (AT-TAUBAH:128-129)

Nabi Muhammad S.A.W adalah nabi sekaligus rasul akhir zaman. pengertian akhir zaman adalah di mana setelah Nabi Muhammad tidak akan ada lagi rasul yang akan datang. Isu tentang akan turunnya Nabi Isa Alaihis-salam itu memang benar namun turunnya Nabi Isa kelak bukanlah sebagai Nabi pembawa syariat baru, Nabi Isa turun ke bumi untuk meluruskan syariat yang di bawa Nabi Muhammad S.A.W.

mengetahui sejarah Rasul Muhammad adalah penting bagi umat islam karena dengan mengetahui sejarah Rasul kita bisa menjadikannya sebagai suri tauladan yang baik. selain itu, dengan mengetahui sejarah perjuangan Rasul di harapkan kita, sebagai umatnya, sadar bahwa agama islam itu bukanlah agama yang main-main dan tidak memperlakukannya seperti mainan.

dalam artikel ini saya akan menulis tentang Peristiwa seputar kelahiran Nabi Muhammad S.A.W (tahun gajah, nasab nabi, masa kecil nabi & masa muda nabi)

A. Nasab Nabi

Sebelum kita membahas tentang kelahiran Nabi pada tahun gajah, terutama kita harus mengetahui nasab-basab Nabi Muhammad S.A.W. ada tiga bagian tentang nasab Nabi Shallahu Alaihi wa Salam;

  1. Bagian yang disepakati oleh pakar biografi dan nasab, yaitu sampai Adnan.
  2. Bagian yang mereka perselisihkan, yaitu antara nasab yang tidak diketahui secara pasti dan nasab yang harus dibicarakan, tepatnya Adnan ke atas hingga Ibrahim As.
  3. Bagian yang sama sekali tidak diragukan bahwa di dalamnya ada hal-hal yang tidak benar, yaitu ibrahim ke atas hingga Adam AS.

Bagian pertama: Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Muthalib (yang namanya Syaibah) bin Hasyim (yang namanya Amru) bin Abdu Manaf (yang namanya al-mughirah) bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nadhor bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrika bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

bagian kedua: Adnan bin udad bin Humaisa‘ bin Salaman bin Aws bin Buz bin Qamwal bin Obai bin ‘Awwam bin Nashid bin Haza bin Bildas bin Yadlaf bin Tabikh bin Jahim bin Nahish bin Makhi bin Ayd bin ‘Abqar bin ‘Ubayd bin Ad-Da‘a bin Hamdan bin Sanbir bin Yathrabi bin Yahzin bin Yalhan bin Arami bin Ayd bin Deshan bin Aisar bin Afnad bin Aiham bin Muksar bin Nahith bin Zarih bin Sami bin Wazzi bin ‘Awda bin Aram bin Qaidar bin Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim

bagian ketiga: Ibrahim dan seterusnya, yaitu bin Trih (yang namanya Azar) bin Nahur, bin Saru’ atau Sarugh, bin Ra’u, bin falakh, bin aibar, bin Syalakh, bin Arfaksyad, bin Sam, bin Nuh Alaihis-salam, bin Lamk, bin Matausyalakh, bin Akhnukh atau Idris Alaihis-salam, bin Yard, bin Mahla’il, bin Qainan, bin yanisya, bin Syaits, bin Adam Alaihis-salam.

B. Keluarga Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wa Salam.

Keluarga Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wa Salam dikenal dengan sebutan keluarga Hasyimiyah, yang dinisbatkan kepada kakek nya, Hasim bin Abdul Manaf. Oleh karena itu ada baiknya jika menyebutkan sekilas tentang keadaan hasyim dari keturunan sesudahnya.

  1. Hasyim. Hasyim adalah orang yang memegang urusan air minum dan makanan dari bani Abdu Manaf untuk jamaah haji, tepatnya tatkala Bani Abdu manaf mengikat perjanjian dengan Bani Abdi-Dar dalam masalah pembagian kedudukan di antara mereka. Hasyim adalah orang terpandang dan kaya raya, nama aslinya adalah Amru. dia dipanggil Hasyim karena dialah orang pertama yang meremukkan roti dan dicampur dengan kuah untuk para jamaah Haji. dia juga menjadi orang pertama yang membuka jalur perdagangan dua kali dalam setahun yaitu pada musim dingin dan pada musim kemarau. Dianatara momen kehidupannya dia pernah pergi ke shyam untuk berdagang. Setiba di Madinah dia menikah dengan seorang perempuan dari bani Adi bin An-Najjar bernama Salma dan menetap di sana bersama istinya. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya ke Syam, sementara istrinya masih bersama keluarganya, yang saat itu sedang mengandung anaknya Abdul-Mutholib. Namun Abdul-Mutholib meninggal dunai setelah menginjakkan kaki di Palestina. Sedangkan Istrinya melahirkan Abdul-Mutholib pada tahun 497M dengan nama Syaibah, karena ada rambut putih(uban) di kepalanya. Hasyim mempunyai empat orang putra; Asad, Abu Shaifi, Nadhalah dan Abdul Mutholib. dia juga mempunya lima orang putri; Asy-Syifa’, Khalidah, Dha’ifah, Ruqoyyah, dan Jannah.
  2. Abdul Mutholib. seperti yang sudah kita singgung bahwa yang mengurus atau yang bertanggung jawab atas air dan makanan jemaah haji sepeninggal Hasyim adalah Abdul Mutholib. Abdul Mutholib terkenal dan terpandang. dia dijuluki Al-Fayyadh (sang dermawan). karena dia memang dermawan. di antara peristiwa penting yang terjadi di Baitul-Haram semasa Abdul-Mutolib adalah penggalian ZamZam dan peristiwa Pasukan Gajah.
    peristiwa Pasukan Gajah akan kita bahas nanti, sedangkan ringkasan Cerita tentang peristiwa penggalian sumur ZamZam adalah bermula dari mimpi yang dialami Abdul Mutolib. dia bermimpi diperintah untuk mencari sumber air ZamZam dan Abdul Mutholib menemukanya. dia menggali sumur ZamZam dan menemukan barang-barang berharga yang di pendam oleh kaum jurhum tatkala sedang berkuasa. barang-barang itu berupa baju perang dan beberapa pedang dan pangkal pelana yang semuanya terbuat dari emas. kemudian pedang itu di jadikan pintuk ka’bah dan memasang dua buang pangkal pelana di pintu itu. Abdul Mutholib mempunyai sepuluh anak laki-laki: Al-Harits, Az-Zubair, Abu Thalib, Abdullah, Hamzah. Abu Lahb, Al-Ghaidaq, Al-Muqawwim, Shaffar, Al-Abbas. Ada yang berpendapat anaknya sebelas ditambah Qotsam. ada juga yang berpendapat, anaknya ada tig belas dengan menambahkan Abdul-Ka’bah dan Hajla. ada yang berpendapat Abdul Ka’bah adalah Al Muqqowim sedangkan hajlah adalah Al-Qoidaq.
  3. Abdullah. dia adalah ayah Rosul Shallallahu alaihi wa salam. Ibunya adalah Fathimah binti Amr bin A’idz bin Imran bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah. Abdullah adalah anak Abdul Mutholib yang paling bagus dan yang paling dicintainya namun Abdullah lah yang terkana undian untuk disembelih dan dikorbankan sesuai dengan nadzar Abdul-Mutholib. Ringkasnya, ketika anak-anaknya sudah berjumlah sepuluh orang dan mengetahui bahwa dia tidak lagi punya anak maka dia akan mengorbankan salah satu anaknya untuk disembelih. nadzar itu diumumkan ke pada anak-anak Abdul Mutholib kemudian semua nama-nama Abdul Mutholib itu ditulis di ujung anak panah lalu di kocok dan ternyata hasil undian jatuh kenama Abdullah. Abdul Mutholibpun kemudian membawa Abdullah ke Ka’bah sambil memegang parang. Namun, orang-orang Quraisy mencegahnya, terutama paman-paman dari pihak ibu dari bani Makhzum dan saudaranya, Abu tholib.
    “kalau begitu, apa yang harus dilakukan sehubungan dengan nadzarku ini?” Tanya Abdul-Mutholib Kebingungan. Mereka mengusulkan untuk menemui seorang dukun wanita. Setelah sampai ke dukun perempuan itu dia diperintahkan untuk mengundi Abdullah dengan 10 ekor unta. Jika yang keluar nama Abdullah maka harus ditambah dengan 10 ekor unta lagi tapi jika yang keluar 10 ekor unta maka sepuluh ekor unta itu yang harus disembelih. kemudian dia mengundi nama Abdullah dan 10 ekor unta ternyata yang pertama keluar adalah nama Abdullah lalu Abdul Mutholib mengundi-nya lagi namun masih saja nama Abdullah yang keluar dan itu terus-terusan sampai jumlah unta mencapai 100 ekor baru. baru setelah itu nama onta itu yang keluar. kemudian di sembelihlah unta-onta itu dan dagingnya dibiarkan tergeletak, tidak boleh ada yang memakannya baik itu manusia maupun hewan. tebusan bagi pembunuhan dalam kalangan quraisy adalah 10 ekor unta namun setelah kejadian itu maka tebusan menjadi 100 ekor unta, yang juga diakui islam. Diriwayatkan dari Rosul Shallallahu alaihi wa salam bahwa dia berkata “Aku adalah anak dua orang yang disembelih”  Maksudnya adalah Isma’il dan Abdullah.
    Abdul Mutholib menikahka anaknya, Abdullah, dengan seorang wanita dari yaitu Aminah binti Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhroh Bin kilab, yang saat itu Aminah dianggap wanita yang paling terpandang di kalangan Quraisy. Abdullah hidup bersama Istrinya di makah. lalu Abdul Mutholib menyuruhnya pergi ke madinah untuk mengurus. Namun, dia meninggal di sana. ada yang berpendapat, Abdullah pergi ke syam untuk berdagang lalu singgah di madinah dan terserang penyakit kemudian meninggal sebelum kelahiran  Rosul Shallallahu alaihi wa salam. begitulah pendapat mayoritas pakar sejarah.

 C.  Peristiwa “Pasukan Gajah”

Peristiwa “Pasukan Gajah” adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun 570 Masehi. Peristiwa itu terjadi pada tahun kelahiran Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wa Salam, atau tak lebih dari dua bulan sebelum itu. Peristiwa ini di abadikan Oleh Allah di dalam AL-Qur’an pada Surah AL-FIL (gajah).

Pada uraian ahli tafsir dan sejarawan Arab dapat disimpulkan bahwa ketika itu terjadi pembunuhan besar-besaran orang-orang Nasrani Oleh Zu Nuwaz, raja Himyar terakhir yang beragama Yahudi. Ketika mendengar peristiwa ini raja Abisinia segera mengirimkan sebuah pasukan besar yang dipimpin oleh dua orang pangeran, Aryat dan Abrahah sebagai wakil raja dan pasukan ini dapat menaklukkan Yaman. Akan tetapi kemudian, terjadi percekcokan besar antara keduanya sehingga terjadi pertarungan antara Aryat dan Abrahah. Aryat kalah dan Abrahah secara otomatis menjadi penguasa Yaman, sebagai wakil raja dan gubernur di Yaman. Ia membuat sebuah katedral besar Sa’an yang konon dibuat dari bahan-bahan mewah, pualam dibawa dari peninggalan istana Ratu saba’ (shena), salib-salib dari emas dan perak, serta mimbar dari gading dan kayu hitam. Tujuannya adalah untuk mengambil hati raja dan untuk mengambil perhatiannya masyarakat Arab yang setiap tahun berziarah ke ka’bah di Mekah, beralih ke gereja besar Sa’an itu. karena dengan berbagai cara ternyata harapannya tak kunjung tercapai , maka tak ada jalan lain selain menghancurkan Ka’bah. didorong dengan ambisi dan fanatisme agama yang berlebihan Abrahah mengerahkan dan memimpin pasukan besar untuk menghancurkan Ka’bah dengan disertai pasukan gajah, yang bagi masyarakat arab pada waktu itu sangat asing sekali, menuju Mekah. Abrahah sendiri berada di barisan paling depan menunggangi seekor gajah besar.

Ringkasnya, setelah pasukan Abrahah telah memasuki kawasan Hijaz dan sudah mendekati Makah, Abrahah mengirim pasukan berkuda sebagai kurir. Dalam perjalanan itu, mereka membawa harta suku Quraisy, di antaranya 200 ekor unta milik Abdul Mutholib bin Hasyim. Melihat pasukan Abrahah sangat begitu besar Quraisy tidak mampu memberikan perlawanan. Abrahah mengirim seorang himyar pengikutnya untuk menemui Abdul Mutholib, Pemimpin Makah, dengan pesan bahwa mereka datang bukan untuk berperang, melainkan hanya untuk menghancurkan ka’bah. Ketika mendengar bahwa tujuan Abrahah tidak untuk berperang maka Abdul Muthalib pergi ke markas Abrahah di antar oleh anak-anaknya dan beberapa pemuka Quraisy. Melihat Abdul Mutholib yang bertubuh tegap dan tampan Abrahah turun dari tahtahnnya menyambut dengan hormat, dan duduk bersama-sama dengan tamunya itu. Abdul Mutholib menjawab apa yang di tanyakan Abrahah perihal tentang kedatangannya itu, bahwa dia datang untuk mengambil dua ratus ternaknya yang dirampas untuk dikembalikan. Abrahah mengatakan bahwa dia kagun melihat Abdul Mutholib ketika pertama kali bertemu namun tidak setelah mengetahui bahwa kedatangannya hanya untuk membicarakan dua ratus unta bukan untuk membicarakan peninggalan nenek moyangnya yang akan di hancurkan oleh Abrahah. Abdul Mutholib kemudian menjawab bahwa dia adalah pemilik unta tersebut dan bukan pemilik Ka’bah. Rumah suci itu adalah milik Allah dan Dia yang akan melindunginya. Para pemuka Quraisy kemudian menawarkan sepertiga dari hartanya asal Abrahah tidak mengganggu ka’bah. namun permintaan itu ditolak. kemudian Abdul Mutholib kembali ke mekah dan memerintahkan semua orang untuk keluar dari Makah agar tidak menjadi korban pasukan Abrahah. Sesudah itu mereka berdoa agar, memohon perlindungan agar kota Mekah dilindungi.

setelah kota makah sunyi, Abrahah menggerakkan pasukannya untuk siap menuju mekah dan menghancurkan Ka’bah. Dalam perhitungannya setelah menghancurkan Ka’bah maka saat itu juga dia akan pulang ke Yaman. Akan tetapi, pada saat itu pasukannya merasa dihujani batu yang dibawa oleh kawanan burung besar. Burung itu tampaknya membawa kuman-kuman wabah penyakit berupa bisul dan berupa letupan-letupan kulit, yang diduga sejenis campak ganas. Abrahah kemudian mati dimakan wabah mematikan itu beserta pasukannya.

Ilustrasi Pasukan Bergajah.

D. Lahirnya Rosul Shallallahu alaihi wa salam.

Rosul Shallallahu alaihi wa salam dilahirkan di tengah-tengah keluarga Bani Hasyim di mekah pada hari Senin pagi, tanggal 9 Rab’ul-Awal, Permulaan tahun dari Peristiwa gajah, dan empat Puluh tahun setelah kekuasaan  Kisra Anusyirawan atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 M. diriwayatkan bahwa ada beberapa bukti pendukung kerasulan, bertepatan dengan saat kelahiran rasul, yaitu runtuhnya 10 balkon istana Kisra, dan padamnya api yang disembah orang majusi, serta runtuhnya beberapa gereja di bukhairah setelah ables ketanah.

Setelah melahirkan, Aminah mengutus seorang utusan untuk memberikan kabar kepada Abdul Mutholib bahwa cucunya sudah lahir. Maka Abdul Mutholib datang dengan perasaan gembira. dia membawa cucunya itu ke Ka’bah dan menamainya Muhammad karena nama itu belum pernah dikenal di kalangan Arab. Kemudian Rasul dikhitan pada hari ketujuh, seperti yang biasa dilakukan orang-orang Arab. wanita yang pertama kali menyusui Nabi Muhammad adalah Tsuaibah, hamba sahaya Abu Lahab, yang kebetulan sedang menyusui anaknya anaknya yang bernama Masruh.

Reruntuhan Istana Kisra

  1. Masa Kecil Rasul Shallallahu alaihi wa salam.
    ada beberapa fase yang akan dibicarakan berkaitan tentang masa kecil rasul.a. Di tengah Bani Sa’d
    Tradisi yang berjalan di tengah-tengah bangsa Arab yang relatif sudah maju adalah mereka mencari wanita-wanita yang bisa menyusui anak-anaknya sebagai langkah untuk menjauhkan anak-anak mereka dari penyakit yang biasanya menjalar di daerah yang sudah maju, agar tubuh bayi sehat dan berotot kekar, juga agar keluarga yang menyusui dapat mengajar bahasa arab dengan fasih. setelah Tsuaibah menyusui Nabi Muhammad maka Abdul Mutholib mencari wanita dari Bani Sa’d Bin Bakr agar menyusui beliau, yaitu Halimah binti Abu Dzu’aib dengan di dampingi suaminya.
    dengan menyusui Rasul, Halimah mendapat barokah yang dapat mengundang kekaguman. Inilah penuturan Halimah secara singkat, suatu ketika dia pergi ke mekah bersama wanita-wanita lain dari bani sa’d untuk mencari anak yang bisa disusui.
    “Itu terjadi pada musim paceklik, Tak banyak kekayaan kami yang tersisa. kami pergi sambil naik keledai betina berwarna putih dan seekor unta tua yang tidak bisa diambil susunya. sepanjang malam kami tidak bisa tidur karena harus meninabobokkan anak kami yang selalu rewel karena lapar. air susuku juga tidak bisa diharapkan. aku pun pergi sambil menunggang keledai tua dan hampir tidak pernah turun sehingga kondisi keledai itu pun semakin lemah. Setiba di mekah kami langsung mencari anak yang untuk disusui. setiap rombongan dari wanita kami setiap di tawari Rasul Shallallahu alaihi wa salam pasti menolaknya, setelah tahu bahwa beliau adalah anak yatim. Karena memang pada saat itu kami membutuhkan anak yang masih mempunyai bapak karena kami mengharapkan imbalan yang setimpal. kami semua berkata “Dia itu adalah yatim”, tidak ada pilihan untuk ibu dan kakek beliau karena kami memang tidak menyukai keadaan itu. kemudian semua wanita dari rombongan kami sudah mendapat anak untuk disusui, keculai aku. tatkala kami sudah bersiap-siap hendak pulang maka aku berkata kepada suamiku “Demi Allah, aku tidak akan pulang bersama teman-temanku kecuali aku membawa anak untuk disusui” “memang ada baiknya engkau melakukan itu, semoga Allah mendatangkan barakoh dari anak itu” kata suamiku.
    Halimah melanjutkan penuturannya, “Maka aku pergi ke ibu dan kakek beliau untuk membawa beliau bersama kami. setelah menggendong nya kami merasa tidak merasa kerepotan karena membawa beban yang lain. aku pun segera menghampiri tunggangan kami, dan tatkala aku sodorkan puting susuku  kepdanya, bayi itu dapat meminum sesukanya hingga kenyang. begitu juga dengan anak kandungku sendiri yang bisa meminum air susuku dengan kenyang setelah itu mereka tertidur nyenyak. padahal sebelum itu kami tidak bisa memejamkan mata kami sepicingpun karena bayi kami yang rewel. setelah itu suamiku menghampiri untanya dan memerah susunya,  kami sangat terkejut karena unta tersebut air susunya menjadi penuh. suamiku bisa meminum air susu unta kami, demikian juga aku, sampai kenyang. malam itu benar-benar malam yang sangat indah bagi kami.
    “Demi Allah, tahukah kamu halimah bahwa kamu telah mengambil jiwa yang penuh berkah” kata suamiku pagi harinya. “Demi Allah, akupun berharap yang demikian itu” kataku.
    kami pun tiba di daerah bani Sa’d. aku tidak melihat sepetak tanah pun yang lebih subur dari saat itu. domba-domba kami datang menyongsong kedatangan kami dalam keadaan kenyang dan air susu nya penuh sehingga kami bisa memerah nya dan meminumnya. Sementara domba tetangga kami tidak ada yang berisi susunya bahkan kelenjar susunya pun kempes. dia (Rasul) tumbuh dengan baik, bahkan sebelum umurnya dua tahun dia sudah tumbuh pesat.
    begitulah Rasul Shallallahu alaihi wa salam tinggal di tengah bani Sa’d hingga tatkala beliau berusia empat atau lima tahun, peristiwa pembelahan dada beliau.
    Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasul Shallallahu alaihi wa salamdidatangi rasul, yang saat itu beliau sedang bermain-main bersama teman-teman. Jibril memegang beliau dan menelentangkan nya, lalu membelah dada lalu mengeluarkan hati beliau dan mengeluarkan segumpal darah dari hati beliau, seraya berkata “ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu” lalu Jibril mencuci-nya dengan air ZamZam di dalam baskom yang terbuat dari emas, kemudian Jibril memasukkan di tempat semula. anak-anak kecil lainya berlarian mencari ibu susuanya seraya berteriak ” Muhammad telah dibunuh” Mereka datang menghampiri beliau dengan wajah yang semakin berseri.b. Kembali ke Ibunda tercinta.
    Dengan adanya peristiwa pembelahan dada itu Halimah merasa khawatir terhadap keselamatan beliau, hingga dia mengembalikan beliau kepada ibunda nya, Aminah. Maka beliau hidup bersama ibunda nya hingga beliau berumur enam tahun.
    Aminah merasa perlu mengenang suaminya yang telah meninggal dunia. Dengan cara mengunjungi kuburan nya di Yastrib. maka dia pergi ke Yastrib bersama Rasul Shallallahu alaihi wa salamdan pembantunya Ummu Aiman. Setelah menetap di Madinah selama dua bulan dalam perjalanan pulang Aminah jatuh sakit dan meninggal dunia di Abwa’, yang terletak antara Makah dan Madinah.

    c. Kembali ke Pangkuan Kakek.
    Kemudian beliau kembali ke tempat kakek nya, perasaan kasih sayang terhadap cucunya yang kini yatim piatu semakin bertumpuk. cucunya yang baru saja di beri cobaan hatinya bergetar dipenuhi rasa kasih sayang yang tidak pernah dirasakannya sekalipun terhadap anak kandung sendiri. dia tidak mau cucunya hidup sebatang kara bahkan dia lebih mementingkan cucunya dari pada anak-anaknya sendiri.
    Pada usia delapan tahun lebih dua puluh hari dari usia Rasul Shallallahu alaihi wa salam, kakek beliau meninggal dunia di Mekah. Abdul Mutholib sudah menitipkan cucunya itu kepada anaknya, Abu Tholib, saudara kandung Bapaknya.

    d. Diasuh Paman.
    Abu Tholib melaksanakan hak asuh anak saudaranya dengan baik. dia lebih mementingkan kebutuhan Rasul Shallallahu alaihi wa salam dari pada anak-anaknya. Hingga usia Rasul Shallallahu alaihi wa salam lebih dari empat puluh tahun beliau di bawah asuhan paman nya itu hingga paman nya rela menjalin hubungan dan permusuhan dengan orang lain demi Rasul Shallallahu alaihi wa salam. ada sebuah peristiwa yang sangat mengagumkan ketika Rasul Shallallahu alaihi wa salammasih kecil; ialah ketika Mekah sedang di landa kekeringan. Orang-orang Quraisy memanggil Abu Tholib seraya berkata “Hai Abu Tholib, lembah sedang kekeringan mari berdoa meminta hujan” Maka Abu Tholib keluar dengan seorang anak kecil, yang seolah-olah wajahnya adalah matahari yang membawa mendung, yang menampakkan awan berjalan pelan-pelan. dia memegang anak itu dan menempelkan punggungnya di dinding Ka’bah, jari-jarinya memegang anak itu. Langit tadinya bersih tiba-tiba berubah mendung dan turun hujan deras sehingga keluar air berlimpah di lembah-lembah dan tanah menjadi subur.

    e. bertemu sang Rahib
    Selagi usia Rasul Shallallahu alaihi wa salam mencapai dua belas tahun, dan ada yang berpendapat lebih dua bulan sepuluh hari, Abu Tholib mengajak beliau berdagang dengan tujuan Syam, hingga tiba di Busrah, suatau daerah yang sudah termasuk Syam dan merupakan ibu kota Haura, yang juga sebagai ibu kota orang-orang Arab sekali pun masih dalam kekuasaan Romawi. Di negeri ini ada seorang Rahib yang dikenal dengan nama Bahira yang nama aslinya adalah Jurjis. Tatkala rombongan ini singgah di daerah ini, maka sang Rahib menghampiri mereka dan mempersilahkan mereka untuk mampir ke tempat tinggalnya sebagai tamu kehormatannya. Rahib itu kemudian memegang tangan Nabi seraya berkata “Orang ini akan menjadi pemimpin semesta Alam. orang ini akan diutus Allah bagi semesta Alam.”
    Abu Tholib Berkata “Dari mana engkau tahu hal itu?”
    Rahib Bahira menjawab “Sebenarnya sejak kalian tiba di Aqobah, tak ada tak ada bebatuan dan pohon melainkan mereka tunduk bersujud. Mereka tidak bersujud melainkan kepada seorang Nabi. Aku bisa melihat dari setempel nubuah yang berada di bagian bawah tulang rawan bahunya, yang menyerupai buah apel. kami juga bisa menemukan tanda itu dalam kitab kami”. Rahib itu meminta Abu tholib untuk tidak membawa Rasul bersama karena takut gangguan dari orang-orang Yahudi.setelah mendengar penjelasan dari Rahib tersebut maka Abu Tholib menyuruh beberapa pemuda untuk kembali ke Mekah bersama Rasul Shallallahu alaihi wa salam.

    peta negara syam.

  2. Masa Muda Rasul Shallallahu alaihi wa salam.
    Pada fase ini, tepat pada masa mudah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salamsampai menikah dengan Khodijah dan sebelum datangnya perintah Nubuah dan Risalah, terjadi beberapa peristiwa yang sangat mengesankan. Peristiwa itu seperti menuntun beliau pada jenjang kedewasaan yang lebih matang.a. Perang Fijar.
    Perang Fijar yang terjadi antara kabilah Quraisy dan sekutu mereka dari Bani Kinanah melawan kabilah Qais dan ‘Ilan meletus pada saat beliau berusia dua puluh tahun. Harb bin Umayyah terpilih menjadi komandan perang membawahi kabilah Quraisy dan Kinanah secara umum karena faktor usia dan kedudukan. Perang pun meletus, pada permulaan siang hari, kemenangan berada di pihak kabilah Qais terhadap Kinanah namun pada pertengahan hari keadaan terbalik; justeru kemenangan berpihak pada Kinanah. Dinamakan “Perang Fijar” karena dinodainya kesucian asy-Syahrul Haram pada bulan tersebut. Dalam perang ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ikut serta dan membantu paman-pamannya menyediakan anak panah buat mereka.b. Hilful-Fudhul.
    Peperangan tersebut berdampak pada terjadinya suatu perjanjian (kebulatan tekad/sumpah setia) yang disebut dengan “Hilful Fudhuul” pada bulan Dzul Qaidah di bulan haram. Hampir seluruh kabilah Quraisy berkumpul dan menghadirinya, mereka terdiri dari: Bani Hasyim, Bani al-Muththalib, Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, Zahrah bin Kilaab dan Tiim bin Murrah. Mereka berkumpul di kediaman ‘Abdullah bin Jud’an at-Tiimy karena faktor usia dan kedudukannya. Isi dari perjanjian tersebut; mereka bersepakat dan berjanji untuk tidak membiarkan ada orang yang dizhalimi di Mekkah baik dia penduduk asli maupun pendatang, dan bila hal itu terjadi mereka akan bergerak menolongnya hingga dia meraih haknya kembali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri hilf tersebut. Setelah beliau dimuliakan oleh Allah dengan ar-Risalah , beliau berkomentar :”aku telah menghadiri suatu hilf (perjanjian) di kediaman ‘Abdullah bin Jud’an yang lebih aku sukai ketimbang aku memiliki Humrun Na’am (onta merah yang merupakan harta yang paling termahal dan menjadi kebanggaan bangsa Arab ketika itu-red). Andai di masa Islam aku diundang untuk menghadirinya, niscaya aku akan memenuhinya”. Sebagai catatan, semangat perjanjian ini bertentangan dengan fanatisme Jahiliyyah yang digembar-gemborkan ketika itu. Diantara hal yang disebutkan sebagai sebab terjadinya perjanjian tersebut adalah ada seorang dari kabilah Zabiid datang ke Mekkah membawa barang dagangannya, kemudian barang tersebut dibeli oleh al-‘Ash bin Waa-il as-Sahmi akan tetapi dia tidak memperlakukannya sesuai dengan haknya. Orang tersebut meminta bantuan kepada sukutu-sekutu al-‘Ash namun mereka mengacuhkannya. Akhirnya, dia menaiki gunung Abi Qubais dan menyenandungkan sya’ir-sya’ir yang berisi kezhaliman yang tengah dialaminya seraya mengeraskan suaranya. Rupanya, az-Zubair bin ‘Abdul Muththalib mendengar hal itu dan bergerak menujunya lalu bertanyatanya:” kenapa orang ini diacuhkan?”. Tak berapa lama kemudian berkumpullah kabilah-kabilah yang telah menyetujui perjanjian Hilful Fudhuul diatas, lantas mereka mendatangi al-‘Ash bin Waa-il dan mendesaknya agar mengembalikan hak orang tersebut, mereka berhasil setelah membuat suatu perjanjian.c. Pekerja Keras
    Diawal masa mudanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki pekerjaan tertentu, hanya saja riwayat-riwayat yang ada menyebutkan bahwa beliau bekerja sebagai pengembala kambing dan mengembalanya di perkampungan kabilah Bani Sa’ad disamping bekerja untuk Ahli Mekkah dengan upah sebesar Qaraariith (jamak dari kata qiiraath ; yaitu bagian dari uang dinar, ada lagi pendapat yang menyatakan bahwa itu adalah nama suatu tempat di Mekkah akan tetapi pendapat ini tidak kuat-[lihat; fathul Bari dalam syarahnya terhadap hadits tentang ini]-red). Ketika berusia dua puluh lima tahun, beliau pergi berdagang ke negeri Syam dengan modal yang diperoleh dari Khadijah radhiallâhu ‘anha . Ibnu Ishaq berkata: “Khadijah binti Khuwailid adalah salah seorang wanita pedagang yang memiliki banyak harta dan bernasab baik. Dia menyewa banyak kaum lelaki untuk memperdagangkan hartanya dengan sistem bagi hasil. Kabilah Quraisy dikenal sebagai pedagang handal, maka tatkala sampai ke telinganya perihal kejujuran bicara, amanah dan akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, dia mengutus seseorang untuk menemuinya dan menawarkannya untuk memperdagangkan harta miliknya ke negeri Syam. Dia menyerahkan kepada beliau barang dagangan yang istimewa yang tidak pernah dipercayakannya kepada pedagang-pedagang yang lainnya. Beliau juga didampingi oleh seorang pembantunya bernama Maisarah. Beliau menerima tawaran tersebut dan berangkat dengan barang-barang dagangannya bersama pembantunya tersebut hingga sampai ke Syam.d. Menikah dengan Khodijah.
    Menikah dengan Khadijah Ketika beliau pulang ke Mekkah dan Khadijah melihat betapa amanahnya beliau terhadap harta yang diserahkan kepadanya begitu juga dengan keberkahan dari hasil perdagangan yang belum pernah didapatinya sebelum itu, ditambah lagi informasi dari Maisarah, pembantunya tentang budi pekerti beliau, kejeniusan, kejujuran dan keamanahannya; maka dia seakan menemukan apa yang dicarinya selama ini (Pendamping hidup) padahal banyak kaum laki-laki bangsawan dan pemuka yang sangat berkeinginan untuk menikahinya namun semuanya dia tolak. Akhirnya dia menceritakan keinginan hatinya kepada teman wanitanya, Nafisah binti Munayyah yang kemudian bergegas menemui beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta kesediaan beliau untuk menikahi Khadijah. Beliau pun menyetujuinya dan menceritakan hal tersebut kepada paman-pamannya. Kemudian mereka mendatangi paman Khadijah untuk melamar keponakannya. Maka pernikahan pun berlangsung setelah itu dan ‘aqad tersebut dihadiri oleh Bani Hasyim dan para pemimpin Mudhar. Pernikahan tersebut berlangsung dua bulan setelah kepulangan beliau dari negeri Syam. Beliau memberikan mahar berupa dua puluh ekor onta muda sedangkan Khadijah ketika itu sudah berusia empat puluh tahun. Dia adalah wanita kabilahnya yang paling terhormat nasabnya, paling banyak hartanya dan paling brilian otaknya. Dialah wanita pertama yang dinikahi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dimana beliau tidak menikah lagi dengan wanita selainnya hingga dia wafat. Semua putra-putri beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lahir dari rahim Khadijah kecuali putranya, Ibrahim. Putra-putri beliau tersebut adalah:
    1). al-Qasim (dimana beliau dijuluki dengannya).
    2). Zainab.
    3). Ruqayyah.
    4). Ummu Kultsum.
    5). Fathimah.
    6). ‘Abdullah (julukannya adalah ath-Thayyib dan ath-Thaahir).
    Semua putra beliau meninggal ketika masih kecil sedangkan putri-putri beliau semuanya hidup pada masa Islam, menganutnya dan juga ikut berhijrah namun semuanya meninggal dunia semasa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup kecuali Fathimah radhiallâhu ‘anha yang meninggal enam bulan setelah beliau wafat.

    e. Pesona Sebelum Nubuwah
    Pada saat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berusia tiga puluh lima tahun, kabilah Quraisy membangun Ka’bah karena kondisinya sebelum itu hanyalah berupa tumpukan-tumpukan batu-batu berukuran diatas tinggi badan manusia, yaitu setinggi sembilan hasta di masa Ismail ‘alaihissalam dan tidak memiliki atap. Karenanya, harta terpendam yang ada didalamnya berhasil dicuri oleh segerombolan para pencuri. Disamping itu, karena merupakan peninggalan sejarah, ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunannya dan merontokkan sendisendinya. Lima tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasulullah, Mekkah dilanda banjir besar dan airnya meluap mencapai pelataran al-Baitul Haram sehingga mengakibatkan bangunan ka’bah hampir ambruk. Orang-orang Quraisy terpaksa merenovasi bangunannya untuk menjaga reputasinya dan bersepakat untuk tidak membangunnya dari sembarang sumber dana selain dari sumber usaha yang baik; mereka tidak mau memakai dana dari mahar hasil pelacuran, transaksi ribawi dan hasil pemerasan terhadap orang-orang.

    Mereka merasa segan untuk merobohkan bangunannya, sampai akhirnya dimulai oleh al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi baru kemudian diikuti oleh yang lainnya setelah mereka melihat tidak terjadi apa-apa terhadapnya. Mereka terus melakukan perobohan hingga sampai ke pondasi pertama yang dulu diletakkan oleh Ibrahim ‘alaihissalam . Setelah itu mereka memulai perenovasiannya; pertama-pertama mereka membagi bagian bangunan ka’bah yang akan dikerjakan beberapa bagian, yaitu masing-masing kabilah mendapat satu bagian dan mengumpulkan sejumlah batu sesuai dengan jatah masing-masing lalu dimulailah perenovasiannya. Sedangkan yang menjadi pimpinan proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi yang bernama Baqum . Tatkala pengerjaan tersebut sampai ke al-Hajar al-Aswadi, mereka bertikai tentang siapa yang paling berhak untuk meletakkannya ke tempat semula dan pertikaian tersebut berlangsung selama empat atau lima malam bahkan semakin meruncing sehingga hampir terjadi peperangan yang maha dahsyat di tanah al-Haram . Untunglah, Umayyah bin al-Mughirah al- Makhzumi menengahi dan menawarkan penyelesaian pertikaian diantara mereka lewat perundingan damai, caranya; siapa yang paling dahulu memasuki pintu masjid diantara mereka maka dialah yang berhak meletakkannya. Tawaran ini dapat diterima oleh semua dan atas kehendak Allah Ta’ala, Rasulullah lah yang menjadi orang pertama yang memasukinya.

    Tatkala mereka melihatnya, dia disambut dengan teriakan: “inilah al-Amiin! Kami rela! Inilah Muhammad! “. Dan ketika beliau mendekati mereka dan diberitahu tentang hal tersebut, beliau meminta sehelai selendang dan meletakkan al-Hajar al-Aswad ditengahnya, lalu pemimpin-pemimpin kabilah yang bertikai tersebut diminta agar masingmasing memegang ujung selendang dan memerintahkan mereka untuk mengangkatnya tinggi-tinggi hingga manakala mereka telah menggelindingkannya dan sampai ke tempatnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengambilnya dengan tangannya dan meletakkannya di tempatnya semula. Ini merupakan solusi yang tepat dan jitu yang diridhai oleh semua pihak. Orang-orang Quraisy kekurangan dana dari sumber usaha yang baik sehingga mereka harus membuang sebanyak enam hasta dari bagian utara, yaitu yang dinamakan dengan al-Hijr (Hijr Isma’il-red) dan al-Hathim, lalu mereka tinggikan pintunya  dari permukaan bumi agar tidak dapat dimasuki kecuali saat menginginkannya.

    Tatkala pembangunan sudah mencapai limabelas hasta, mereka memasang atap yang disangga dengan enam tiang. Akhirnya Ka’bah yang baru diselesaikan tersebut berubah menjadi hampir berbentuk kubus dengan ketinggian 15 m dan panjang sisi yang berada di bagian al-Hajar al-Aswad dan bagian yang searah dengannya adalah 10,10 m. al-Hajar al-Aswad sendiri dipasang diatas ketinggian 1,50 m dari permukaan pelataran thawaf. Adapun panjang sisi yang berada di bagian pintu dan bagian yang searah dengannya adalah 12 m sedangkan tinggi pintunya adalah 2 m diatas permukaan bumi. Dan dari sebelah luarnya dikelilingi oleh tumpukan batu bangunan, tepatnya di bagian bawahnya, tinggi rata-ratanya adalah 0,25 m dan lebar rata-ratanya 0,30 m dan bagian ini dikenal dengan nama asy-Syaadzirwan yang merupakan bagian dari pondasi asal Ka’bah akan tetapi orang-orang Quraisy membuangnya.

    Referensi Buku. 

    1. SIRAH NABAWIYAH (Syaikh Shafiyurrahman Al- Mubarakfurry)

    2. TAFSIRUL QUR;AN (Abdurrahman bin Nashir as-Sadi’)